Filosofi Gedung Pesantren Wirausaha Payungi

Kota Metro – Dalam rangka meresmikan Gedung Pesantren Wirausaha Payungi, Payungi University bersama Selasart dan Sketsa Lampung adakan kegiatan MAK(K)PAS Collective Art Exhibition pada tanggal 10-24 Juni 2022.

Dalam kegiatan MA(K)PAS Collective Art Exhibition tersebut terdapat pameran lukisan, workshop dan bincang santai yang menghadirkan para tokoh lokal, praktisi dan seniman.

Tujuan dibangunnya gedung Pesantren Wirausaha Payungi untuk memfasilitasi masyarakat dalam mendalami ilmu agama dan berbagai disiplin ilmu terutama dalam kewirausahaan.

Fritz Akhmad Nuzir selaku arsitek yang merancang gedung tersebut, menjelaskan bahwa gedung Pesantren Wirausaha Payungi dibangun dengan 3 filosofi yaitu progres, kejujuran dan lokalitas.

Pertama, progres. Unfinished building atau bangunan yang belum selesai. Itu kesan pertama yang ingin dimunculkan dari bangunan ini. Secara filosofis, ini menyiratkan suatu progres. Sesuai dengan fungsinya sebagai tempat pembelajaran. Belajar adalah progres menuju pengetahuan. Secara fisik, beberapa bagian bangunan ini sangat fleksibel dan terbuka untuk segala pengembangan untuk mewadahi segala kegiatan. Pengembangan swadaya oleh pengguna bangunan ini diharapkan akan memunculkan sense of place. Tempat yang melekat dalam kenangan.

Kedua kejujuran. Nilai lain yang ditanamkan ke dalam bangunan ini adalah kejujuran. Sebagai tempat untuk belajar berwirausaha yang didasarkan kepada nilai keagamaan maka kejujuran adalah hal yang utama. Ini sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW. Kejujuran pada konteks bangunan diwujudkan dalam bentukan rupa dasar seperti segitiga, persegi, dan lingkaran yang muncul. Selain itu kejujuran juga diperlihatkan dalam penggunaan material yang tetap dipertahankan warna dan tekstur aslinya terkecuali karena pertimbangan fungsi. Dan kejujuran juga dapat dilihat dengan struktur dan ruang bangunan ini yang open dan transparan.

Ketiga lokalitas. Lokalitas adalah prinsip utama dari pembangunan berkelanjutan. Di mana dalam membangun kita harus memahami potensi dan tantangan yang ada di alam sekitar kita. Bangunan panggung dan atap pelana merupakan wujud lokalitas dalam arsitektur tropis. Sedangkan nilai intangible lokal pun hadir dalam wujud budaya yang berupa ornamen bangunan tradisional Lampung seperti motif pucuk rebung, andang-andang, dan bikkai. Keberadaan pohon eksisting pun dilestarikan dan dijadikan referensi utama dalam desain bangunan. Begitu juga dengan material. Penggunaan batu bata ekspose merujuk kepada aktivitas warga setempat yang dulu banyak membuka tobong bata.

Dharma Setyawan selaku penggerak Payungi mengatakan, ” Harapannya adanya gedung ini dapat memfasilitasi masyarakat untuk meningkatkan pengetahuannya dan skill wirausaha mereka”. Disamping itu Ia juga menjelaskan bahwa di dalam gedung ini akan dilaksanakan berbagai kegiatan pembelajaran transformatif. (Red/Inka Apriany)