BANDAR LAMPUNG – Titik terang pengentasan kemiskinan di Provinsi Lampung kini mulai bersinar dari wilayah perdesaan. Data terbaru BPS yang dirilis pada awal Februari 2026 menunjukkan fenomena menarik, di mana penurunan kemiskinan di desa menunjukkan tren yang sangat signifikan. Saat ini, tingkat kemiskinan perdesaan berada di angka 10,88 persen, sementara perkotaan bertahan di angka 7,37 persen. Penurunan tajam di sektor perdesaan ini menjadi bukti bahwa program pembangunan berbasis desa mulai membuahkan hasil positif.
Sektor pertanian, yang merupakan tulang punggung ekonomi Lampung, memegang peranan vital dalam pencapaian ini. Nilai Tukar Petani (NTP) Lampung tercatat berada pada posisi yang sangat menguntungkan, yakni 127,62. Angka NTP yang jauh melampaui ambang batas 100 ini menandakan bahwa indeks harga yang diterima petani jauh lebih besar dibandingkan indeks harga yang harus mereka bayar untuk konsumsi maupun biaya produksi. Kondisi ini memberikan bantalan ekonomi yang kuat bagi masyarakat desa, bahkan di tengah dinamika penurunan produksi padi.
Ahmad Riswan Nasution, Kepala BPS Lampung, menyebutkan bahwa tingginya daya tukar petani menjadi indikator utama peningkatan kesejahteraan di tingkat produsen pangan. Walaupun tantangan alam terkadang memengaruhi jumlah panen, namun stabilitas harga jual di tingkat petani berhasil menjaga pendapatan mereka tetap berada di atas garis kemiskinan. Hal ini secara langsung mengurangi beban sosial di wilayah perdesaan yang selama ini dianggap sebagai kantong utama kemiskinan di Lampung.
Melalui rilis data ini, pemerintah daerah diharapkan dapat memperkuat infrastruktur pendukung pertanian dan akses pasar bagi warga desa. Pengurangan angka kemiskinan yang berbasis pada penguatan ekonomi desa dianggap sebagai langkah paling berkelanjutan. Dengan jumlah penduduk miskin yang menyusut menjadi 860,13 ribu orang, Lampung kini memiliki modal sosial yang lebih kuat untuk terus menekan angka kemiskinan hingga ke level terendah dalam beberapa tahun ke depan.
